[1]. Do'a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :
"Artinya
: Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". [Ghafir : 60].
Imam
Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata :
Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat
permohonan, dan ayat berikutnya 'an 'ibaadatiy menunjukkan bahwa
berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong
tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.
Dengan
demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena
sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir.
Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak
terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap
lebih baik daripada meninggalkannya sebab dalil-dalil yang
menganjurkan berdoa cukup banyak. [Fathul Bari 11/98].
Dari
Nu'man bin Basyir bahwasanya Rasulullah صلی الله
عليه وسلم
bersabda :
"Artinya : Doa adalah ibadah", kemudian beliau
membaca ayat : "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembahKu". [Ghafir : 60].
Imam Hafizh Ibnu Hajar
menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : Sebaiknya hadits Nu'man di
atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah
memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak
dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada
Pencipta serta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah
mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya : "Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari menyembahKu". Dalam ayat ini orang yang
tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang
yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan
ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina. [Fathul
Bari 11/98].
Catatan :
Hadits yang berbunyi :
"Artinya
: Doa adalah initi ibadah" [Hadits Dhaif]
[Didhaifkan
Al-Albani, Ta'liq 'ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]
[2].
Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, dari Abu Hurairah رضي
الله عنه berkata
bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم
bersabda :
"Artinya : Tidak ada sesuatu yang paling mulia di
sisi Allah daripada doa". [Sunan At-Timidzi, bab Do'a 12/263, Sunan
Ibnu Majah, bab Do'a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362].
Syaikh
Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits tersebut adalah tidak ada
sesuatu ibadah qauliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisi Allah
daripada doa, sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan
substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah
ibadah badaniyah yang paling utama sehingga hal ini tidak
bertentangan dengan firman Allah.
"Artinya : Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang
paling bertakwa diantara kamu". [Al-Hujurat : 13].
[3].
Allah murka terhadap orang-orang yang meninggalkan doa, berdasarkan
hadits bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه
berkata bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم
bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang tidak meminta kepada
Allah, maka Allah akan memurkainya". [Sunan At-Tirmidzi, bab Do'a
12/267-268].
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam
At-Thaibi berkata : "Makna hadits di atas yaitu barangsiapa yang tidak
meminta kepada Allah, maka Dia akan murka begitu pula sebaliknya Dia
sangat senang apabila diminta hamba-Nya". [Fathul Bari 11/98]
Imam
Al-Mubarak Furi berkata bahwa orang yang meninggalkan doa berarti
sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah.
Imam At-Thaibi
berkata bahwa Allah sangat senang tatkala dimintai karunia-Nya, maka
barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat
murka-Nya.
Dari hadits di atas menunjukkan bahwa permohonan
hamba kepada Allah merupakan kewajiban yang paling agung dan paling
utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi
keharusan. [Mura'atul Mashabih 7/358]
[4]. Doa mampu menolak
takdir Allah, berdasarkan hadits dari Salman Al-Farisi رضي
الله عنه bahwa
Rasulullah صلی الله عليه وسلم
bersabda.
"Artinya : Tidak ada yang mampu menolak takdir
kecuali doa". [Sunan At-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306]
Syaikh
Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang
tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir
karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat,
boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya
sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar
dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang
ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia
berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan
musibah laksana panah. [Mura'atul Mafatih 7/354-355].
Syaikh
Utsaimin ditanya : "Kita sering mendengar orang berdoa : Ya Allah kami
tidak memohon agar takdir kami dirubah akan tetapi kami meminta
kelembutan dalam takdir tersebut. Apakah doa tersebut dibolehkan .?"
Jawaban
:
Berdoa seperti itu dilarang dan haram sebab doa bisa merubah
takdir seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Bahkan
orang yang berdoa seperti itu menantang Allah dan seakan mengatakan :
"Ya Allah takdirkanlah kepadaku apa saja yang Engkau kehendaki tetapi
berilah kelembutan dalam takdir tersebut".
Seharusnya
orang yang berdoa berketetapan hati dalam doanya, seperti berdoa : Ya
Allah kami memohon rahmat-Mu dan kami berlindung dari siksaan-Mu, dan
doa semisalnya. Apabila seorang berdoa kepada Allah agar tidak dirubah
takdirnya, maka apa manfaatnya sementara doa bisa merubah takdir, dan
bisa jadi takdir tersebut hanya bisa berubah lantaran doa. Yang
penting doa tersebut di atas tidak boleh dan hendaknya dihindarkan
serta barangsiapa yang mendengar doa seperti itu sebaiknya
menasehatinya. [Liqa' Babul Maftuh 5/45-46]
5]. Orang yang
paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoa berdasarkan hadits
Nabi bahwasanya beliau صلی الله عليه وسلم
bersabda.
"Artinya : Orang yang lemah adalah orang yang
meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang
bakhil terhadap salam". [Al-Haitsami, kitab Majma' Az-Zawaid.
Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata : Sanadnya
Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah
2/152-153 No. 601].
Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud
dengan 'Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan
paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min 'ajzin
'an ad-dua'i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat
kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia
meninggalkan perintah-Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat
ringan.[Faidhul Qadir 1/556].
Ahli syair berkata.
Janganlah
kamu meminta kepada manusia, memintalah
kepada Dzat yang pintu-Nya
tidak pernah tertutup.
Allah akan murka jika engkau tidak
meminta-Nya,
sementara manusia marah jika sering diminta.
Syair
di atas menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa yang lebih baik tidak
berdoa.
[6]. Allah سبحانه و تعالى
memerintahkan berdoa, barangsiapa yang meninggalkan doa berarti
menentang perintah Allah dan barangsiapa yang melaksanakan berarti
telah memenuhi perintah-Nya. Allah سبحانه و تعالى
berfirman.
"Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran". [Al-Baqarah : 186].
Syaikh Sa'di mengatakan
bahwa ayat di atas sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat kepada
Nabi صلی الله عليه وسلم
mereka bertanya : Wahai Rasulullah, apakah Allah dekat sehingga kami
memohon dengan berbisik-bisik ataukah Dia jauh sehingga kami
memanggil-Nya dengan berteriak ? Maka turunlah ayat Allah. [Tafsir
At-Thabari dan didhaifkan oleh Imam Ahmad 3/481].
"Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat". Karena Allah adalah Dzat Yang Maha
Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Menyaksikan terhadap sesuatu yang
tersembunyi, rahasia dan mengetahui perubahan pandangan mata serta isi
hati. Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang meminta dan selalu
sanggup mengabulkan permintaan. Maka Allah berfirman : "Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku".
Doa
adalah dua macam yaitu doa ibadah dan doa permohonan. Kedekatan Allah
dengan hamba-Nya terbagi dua macam yaitu ; kedekatan ilmu-Nya dengan
setiap mahluk-Nya dan kedekatan dengan hamba-Nya dalam memberikan
setiap permohonan, pertolongan dan taufik kepada mereka.
Barangsiapa
yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu' dan berdoa sesuai
dengan aturan syariat serta tidak ada penghalang diterima doa tersebut
seperti makan makanan yang haram atau semisalnya, maka Allah berjanji
akan mengabulkan permohonan tersebut. Apalagi bila disertai hal-hal
yang menyebabkan terkabulnya doa seperti memenuhi perintah Allah,
meninggalkan larangan-Nya baik secara ucapan maupun perbuatan dan
yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Maka Allah berfirman : "Maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hedaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
Artinya
orang yang berdoa akan berada dalam kebenaran yaitu mendapatkan
hidayah untuk beriman dan berbuat amal shalih serta terhindar dari
kejahatan dan kekejian. [Tafsir As-Sa'di 1/224-225].
[7]. Imam
Zarkasi berkata bahwa konsentrasi dalam berdoa serta menunjukkan sikap
rendah, tunduk, penghambaan dan merasa membutuhkan Allah adalah
merupakan ibadah yang paling agung bahkan demikian itu menjadi syarat
sahnya ibadah.
Allah berjanji akan memberikan pahala orang yang
berdoa, meskipun tidak dikabulkan doanya.
[8]. Berdoa adalah
menyibukkan diri untuk mengingat Allah sehingga timbul dalam hati rasa
pengagungan terhadap kebesaran Allah dan ingin kembali kepada-Nya
berhenti dari maksiat. Sering mengetuk pintu mempunyai kesempatan
besar untuk masuk, sehingga ada pepatah bahwa barangsiapa yang sering
mengetuk pintu, maka suatu saat akan diberi izin masuk sehingga
dikatakan :"Diberi kesempatan berdoa lebih baik daripada diberi
sesuatu".
[9]. Banyak berdoa bisa menghindarkan bencana
dan musibah, sebagaimana firman Allah yang mengkisahkan tentang Nabi
Ibrahim 'عليه السلام
:
"Artinya : Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan
aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". [Maryam : 48]
Dan
firman Allah tentang Nabi Zakaria 'عليه السلام.
"Artinya
: Ia berkata :'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan
kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam
berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku". [(Maryam : 4) Al-Azhiyah fi Ahkamil
Ad'iyah hal. 38-42].
[10]. Sebagian orang hanya berdoa sekali
atau dua kali dan setelah merasa tidak dikabulkan, lalu berhenti
berdoa. Jelas tindakan seperti itu adalah tindakan yang keliru bahkan
dia harus terus menerus mengulangi doanya hingga Allah mengabulkannya.
Dari
Abu Hurairah رضي الله عنه
bahwasanya Nabi صلی الله عليه وسلم
bersabda.
"Artinya : Do'a seorang hamba akan selalu dikabulkan
selagi tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat, atau
tidak tergesa-gesa. Mereka bertanya : Apa yang dimaksud tergesa-gesa ?
Beliau menjawab : " Dia berkata ; Saya berdoa berkali-kali tidak
dikabulkan, lalu dia merasa menyesal kemudian meninggalkan doa".
[Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Do'a 4/87].
Menurut Imam
An-Nawawi yang dimaksud menyesal adalah meninggalkan doa. [Syarh
Shahih Muslim 17/52].
Maka seharusnya seorang hamba harus terus
berdoa dan tidak boleh bosan serta merasa tidak dikabulkan doanya.
Dalam ucapan : "Saya berdoa berkali-kali tetapi tidak dikabulkan".
Syaikh
Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa Syaikh Al-Qari berkata : "Yang
dimaksud dengan kalimat tersebut adalah tidak melihat hasil doa saya.
Terkadang merasa doanya lambat dikabulkan atau putus asa dari berdoa
dan keduanya tercela. Perlu diketahui, ada waktu tertentu untuk
terkabulnya doa, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa doa Musa dan
Harun agar Fir'aun dihancurkan oleh Allah baru terkabul setelah empat
puluh tahun. Adapun berputus asa dari rahmat Allah tidak akan terjadi
kecuali atas orang-orang kafir". [Mura'atul Mafatih 7/348].
Imam
Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam hadits di atas terdapat etika
berdoa yaitu terus mengajukan permohonan dan tidak berputus asa dalam
berdoa sebab demikian itu merupakan bagian dari sikap ketundukan dan
penyerahan diri kepada Allah serta merasa membutuhkan Allah, oleh
karena itu sebagian ulama salaf berkata : "Kami lebih takut dihalangi
untuk berdoa daripada dihalangi terkabulnya doa".
Imam
Ad-Dawudi berkata : "Dikhawatirkan orang yang mengatakan bahwa dia
selalu berdoa tetapi tidak dikabulkan maka doanya benar-benar tidak
dikabulkan, atau benar-benar tidak dikabulkan penangguhan siksa
akhirat atau pengampunan dosa-dosanya".
Imam Ibnul Jauzi
berkata : "Ketahuilah bahwa doa orang mukmin tidak mungkin ditolak,
boleh jadi ditunda pengkabulannya lebih baik atau digantikan sesuatu
yang lebih maslahat dari pada yang diminta baik di dunia atau di
akhirat. Sebaiknya seorang hamba tidak meninggalkan berdoa kepada
Rabbnya sebab doa adalah ibadah yaitu ibadah penyerahan dan ketundukan
kepada Allah". [Fathul Bari 7/348 ]
Dari Aisyah رضي
الله عنها bahwa
beliau berkata : "Tatkala Rasulullah صلی
الله عليه وسلم
terkena sihir orang Yahudi bernama Lubaid bin A'sham, beliau berkata
sehingga seakan-akan Rasulullah melakukan sesuatu padahal tidak
melakukannya hingga pada suatu malam Rasulullah صلی
الله عليه وسلم
berdoa kemudian berdoa dan terus berdoa". [Shahih Muslim, kitab Salam
bab Sihir 7/14]
Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas
menekankan kepada setiap hamba tatkala tertimpa bencana atau musibah
untuk memperbanyak doa dan terus berserah diri kepada Allah. [Syarh
Shahih Muslim 7/14].
Dari Ali bin Abu Thalib رضي
الله عنه berkata
bahwa tatkala saya mulai bertempur saat perang Badr saya kembali
dengan cepat untuk melihat apa yang dikerjakan Rasulullah صلی
الله عليه وسلم,
ternyata beliau sedang bersujud dan membaca : Wahai Dzat Yang Maha
Hidup dan Maha Kekal, Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal,
kemudian saya kembali bertempur, lalu saya kembali lagi ke tempat
Rasulullah, saya temui beliau dalam keadaan sujud, kemudian saya
kembali bertempur lalu saya kembali ke tempat beliau dan saya temui
masih membaca doa tersebut sehingga Allah memberikan kemenangan".
[Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari 11/98]
Dari Ubadah bin Shamit رضي
الله عنه bahwasanya
Rasulullah صلی الله عليه وسلم
bersabda.
"Artinya : Tidak ada seorang muslim berdoa kepada
Allah di dunia dengan suatu permohonan kecuali Allah akan
mengabulkannya atau menghilangkan daripadanya keburukan yang
semisalnya, selagi tidak berdoa sesuatu dosa atau pemutusan kerabat.
Ada seorang laki-laki dari suatu kaum berkata : Jikalau begitu saya
akan memperbanyak (doa). Beliau bersabda : '"Allah mengabulkan doa
lebih banyak daripada yang kalian minta". [Sunan At-Tirmidzi, bab Doa
13/78. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul bari 11/98].
[11].
Hadits yang berbunyi.
"Artinya : Allah mencintai orang-orang
yang bersungguh-sungguh dalam berdoa". [Hadits Dhaif, Al-Albani
berkata dalam Silsilah Dhaifah bahwa hadits ini bathil 2/96-97].
[Disalin
dari buku Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam
Berdoa, oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 37-42,
terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin, Lc.]
Follow Us
Bantu aku menyebarkan dakwah yang menakjubkan ini, jika punya saran atau kritik bisa segera ke Instagram atau Fanspage Facebook