Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Ini Belum Berakhir

 Perjalanan Ini Belum Berakhir | kaf-artwork.blogspot.com

Suatu ketika Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundak Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma seraya berpesan dengan pesannya yang agung,

Syukuri Rezeki

Syukuri Rezeki | kaf-artwork.blogspot.com

Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda! Pasti Anda akan dapati perbedaan tingkat kehidupan orang-orangnya.


Ada yang kaya raya, punya rumah mewah, kendaraan berderet bak showroom di garasinya. Uangnya jangan ditanya, perhiasannya pun membuat mulut kita menganga. Sementara itu, makanan yang tersaji di meja hidangannya membuat kita geleng-geleng kepala. Dia bisa bepergian ke mana dia suka, berlibur dari satu negara ke negara lain adalah hal yang biasa.


Anda dapati ada lagi si miskin papa, berumah reyot dengan dinding hampir roboh, berpakaian kusam dan penuh tambalan, makan cukup dengan sepotong tempe atau krupuk.


Yang lebih prihatin ada lagi, mereka yang Anda lihat menggelandang di emperan, tidur di atas tanah berhampar koran, langit yang menjadi atap. Tak terbayang dingin menusuk saat malam tiba, apatah lagi ketika hujan turun sementara tubuh mereka hanya dibungkus pakaian yang compang-camping. Makan hanya dengan mengharap belas kasih orang-orang. Makanan basi penghuni tong sampah tidak ditolak sebagai pengganjal perut daripada harus menanggung sakitnya rasa lapar. Sungguh mengenaskan!


Ada lagi yang hidupnya pertengahan, tidak kaya berlebihan, tidak pula kekurangan.


Bisa jadi, pernah terpikir di benak Anda, mengapa harus ada si miskin dan si kaya? Si ‘papa’ dan si konglomerat? Mengapa manusia tidak disamakan saja rezekinya?


Jawabannya, Allah ‘azza wa jalla ar-Razzaq, Dzat yang memberikan rezeki dan membagi-baginya di antara para hamba-Nya, memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan, dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki para hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam hukum dan penetapan syariat. Seluruh hukum syariat-Nya adil, penuh rahmat dan sarat hikmah, serta memberi kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,


وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠


“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)


Dia Maha Terpuji dalam pemberian-Nya kepada para hamba dan Maha Terpuji pula ketika Dia menahan pemberian-Nya. Kewajiban para hamba adalah mensyukuri-Nya ketika Dia memberi kelapangan rezeki kepada mereka disertai dengan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya kepada mereka dalam rezeki tersebut.


Sebaliknya, para hamba wajib bersabar dengan takdir Allah ‘azza wa jalla ketika Dia menyempitkan rezeki mereka. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu apa yang paling bermaslahat bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah ‘azza wa jalla lebih sayang kepada mereka daripada sayangnya ibu dan ayah kandung mereka.


Allah ‘azza wa jalla memang tidak menyamakan pembagian rezeki di antara para hamba-Nya. Ada yang dilapangkan dan ada yang disempitkan karena hikmah-Nya yang agung dan bernilai tinggi.


Berikut ini kita petikkan apa yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah khutbah beliau yang tersimpan dalam kitab adh- Dhiya’u al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ (1/169—171) tentang hikmah pembagian rezeki yang berbeda-beda.


Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki tidak sama di antara para hamba-Nya, agar mereka mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla lah yang mengatur seluruh urusan. Di tangan-Nya lah penguasaan dan pengaturan langit serta bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menolak takdir dan ketetapan-Nya.


لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٢


“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syura: 12)


Allah ‘azza wa jalla membedakan pembagian rezeki-Nya agar manusia mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak.


Di dunia ini manusia berbeda-beda penghidupannya. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah nan menjulang, menaiki kendaraan yang mewah dan mahal, berbolak-balik dalam kebahagiaan dan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat bernaung, tidak ada keluarga, tidak ada harta, tidak ada anak, hidup sebatang kara. Di antara mereka ada yang pertengahan, di antara itu dan ini, dengan derajat yang berbeda.


Demikian pula derajat di akhirat kelak, lebih besar, lebih nyata, dan lebih kekal.


ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١


“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Isra: 21)


Apabila sepeti itu keadaan akhirat dibandingkan dengan dunia, sepantasnya manusia berlomba-lomba untuk meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat. Orang yang cerdas tentu mendambakan yang lebih kekal. Untuk perlombaan inilah orang-orang yang cerdas rela berlomba, tidak untuk dunia!


Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki dengan berbeda-beda, agar orang yang kaya dapat menghargai kadar nikmat yang dimudahkan kepadanya. Dia pun bersyukur kepada Dzat Yang Memberikan nikmat sehingga tergolong hamba-hamba yang bersyukur.


Sebaliknya, orang yang fakir mengetahui ujian yang diterimanya berupa kefakiran, lalu bersabar sehingga mencapai derajat hamba-hamba yang bersabar. Telah diberitakan bahwa orang yang bersabar akan beroleh pahala tanpa batas.


Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir harus terus memohon kemudahan kepada Rabbnya dan menanti kelapangan dari-Nya tanpa pernah berputus asa dari rahmat-Nya.


Allah ‘azza wa jalla membagi-bagi rezeki-Nya agar tercapai maslahat agama dan dunia para hamba-Nya. Andai semuanya beroleh kelapangan rezeki dan menjadi orang kaya, niscaya manusia akan melampaui batas di muka bumi dengan berbuat kekafiran, kezaliman, dan kerusakan. Kelapangan dan kemudahan hidup membuat mereka lupa diri.


Sebaliknya, apabila semua mereka disempitkan rezekinya dan semua menjadi orang miskin, niscaya akan timbul ketimpangan dalam tatanan hidup mereka.

Apabila semua manusia rezekinya sama, niscaya sebagiannya tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai ejekan, sehingga tidak ada ujian sebagai tempaan keimanan. Sebagiannya tidak bisa menjadikan yang lain sebagai pekerja. Sebagiannya tidak menjadi pelayan bagi yang lain. Yang satu tidak membuat sesuatu untuk yang lain, karena semuanya berderajat sama.

Apabila seperti itu keadaannya, di mana rasa kasih sayang si kaya terhadap si miskin? Andai semua berderajat sama, bagaimana penerapan menyambung silaturahmi dengan menginfakkan harta kepada karib kerabat?


Jelas sekali, banyak kemaslahatan akan hilang seandainya manusia sama rezekinya. Karena itulah, wajib bagi kita kaum muslimin untuk ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb kita, ridha dengan pembagian rezeki-Nya, ridha dengan hukum-Nya, serta beriman dengan hikmah dan rahasia-Nya.


ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٦٢


“Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ankabut: 62)


Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab


Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Let's Change Now!

Let's Change Now! | kaf-artwork.blogspot.com

Usaha adalah bagian dari takdir. Tidak ada kontradiksi antara usaha dan takdir. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Jika pengejar akhirat mengetahui bahwa akhirat tidak akan digapai melainkan dengan keimanan, amal saleh, dan meninggalkan lawannya (amal buruk), ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh merealisasikan keimanan dan memperbanyak wujud-wujud keimanan yang terperinci. Ia akan bersungguh-sungguh melakukan amalan saleh yang akan mengantarkan dirinya menuju akhirat. Sisi yang lain, ia akan meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan. Ia akan segera bertaubat jika terjatuh dalam dosa.

Jika pemilik ladang mengetahui bahwa hasil kerjanya tidak akan berhasil melainkan dengan menanam dan mengairinya disertai dengan pengawasan ketat, ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan segala cara untuk menumbuhkan tanamannya, memaksimalkannya, dan mencegah hama penyakit.

Jika pelaku produksi mengetahui bahwa hasil-hasil produksi, dengan berbagai ragam jenis dan manfaatnya, tidak akan berhasil didapatnya melainkan dengan mempelajari disiplin ilmu produksi dan menguasainya, lalu mempraktikkannya, ia akan berusaha dan bersungguh-sungguh.
Barang siapa mengharapkan keturunan atau membiakkan hewan ternaknya, tentu ia akan bekerja dan berusaha. Demikianlah pada seluruh urusan.” (ar-Riyadh an-Nadhirah, as-Sa’di, hlm. 125—126)
Adapun dalil yang menjelaskan wajibnya si hamba berusaha sangat banyak. Antara lain:

1. Hadits Abu Hurairah z, riwayat Muslim (4/2025).
Rasulullah n bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan, ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah, ‘Telah ditakdirkan Allah, apa yang Allah l kehendaki, Dia pasti melakukannya.’ Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka amalan setan.”

2. Hadits Ibnu Abbas c, riwayat al-Bukhari (10/179) dan Muslim (4/1740).
Umar bin Khaththab z pernah berangkat menuju Syam. Setibanya di wilayah Sargh, beliau disambut oleh para panglima perang, Abu Ubaidah bin al-Jarrah beserta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menyampaikan berita kepada Umar bahwa di negeri Syam sedang terjangkiti satu wabah. Umar lalu memerintahkan untuk mengundang para sahabat dalam rangka bermusyawarah. Mulai dari kalangan Muhajirin, lalu kalangan Anshar, kemudian kaum Quraisy. Dari musyawarah tersebut, Umar memutuskan untuk kembali pulang.

Lalu Umar  mengumumkan, “Sesungguhnya aku akan kembali besok pagi, bersiap-siaplah besok.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah z bertanya, “Apakah untuk lari dari takdir Allah?” Umar menjawab,

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا، يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟

“Andai saja bukan kamu yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari takdir Allah l menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu, jika engkau mempunyai ternak unta lalu singgah di sebuah lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi yang subur, sisi yang lain gersang. Bukankah dengan takdir Allah juga jika engkau menggiringnya ke sisi yang subur? Bukankah dengan takdir Allah juga engkau menggiringnya ke sisi yang gersang?”

Setelah itu, datanglah Abdurrahman bin Auf  yang sebelumnya tidak hadir karena ada keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Jika kalian mendengar terjadi wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Jika kalian berada di suatu daerah yang sedang terjangkiti wabah, janganlah meninggalkannya untuk lari’.”
Umar pun memuji Allah , lalu bertolak (kembali ke Madinah).

Orang Cerdas
Orang yang benar-benar cerdas akan berusaha menghindari takdir dengan takdir juga, menghadapi takdir dengan takdir pula. Tidak akan mungkin kita menjalani kehidupan melainkan dengan cara ini. Rasa lapar dan haus, kedinginan, seluruh hal yang menakutkan dan membahayakan, adalah takdir. Seluruh makhluk berusaha untuk terhindar dari hal tersebut dengan takdir juga.

Demikianlah kondisi hamba yang memperoleh taufik dan petunjuk. Ia pasti berusaha untuk terhindar dari “takdir” siksa di akhirat dengan “takdir” taubat, iman, dan amal saleh. (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 27)

Perlu diingat, yang mengatakan, “Allah  telah mencatat takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi,” beliau juga yang mengatakan, “Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.” Lalu:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (al-Baqarah: 85)
(al-Iman bil Qadha, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 127—129)

asysyariah.com/usaha-doa-sebab-dan-takdir/

Pastikan berada pada yang Haq

Pastikan berada pada yang Haq | kaf-artwork.blogspot.com
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Allah jadikan umat islam sebagai umat pertengahan. Mareka tidak ekstrim dalam bersikap, sehingga mereka bisa berbuat adil dan menjadi umat pilihan.
Namun tidak semua sikap pertengahan itu benar. Ada sikap pertengahan yang itu menjadi karakter orang munafik.
Al-haq dan bathil, kebenaran dan kebatilan, islam dan kekufuran akan selalu bermusuhan. Pembela kebenaran, pembela islam, akan selalu berhadapan dengan pembela kebatilan dan kekufusan. Tauhid dan syirik, sunah dan bid’ah, selamanya akan selalu bermusuhan. Bagi kita, ini satu hal yang biasa.
Namun apa yang terjadi, ketika ada orang yang memilih posisi pertengahan, tidak memihak kepada kebenaran dan tidak pula kebatilan. Kira-kira, bagaimana kondisinya?
Menguntungkan atau merugikan?
Memotivasi atau nggembosi?
Anda yang pernah berdakwah kemudian ditolak mentah-mentah oleh jamaah, mungkin pernah merasakan itu. Di saat anda menyampaikan kebenaran, kemudian ada beberapa jamaah menolak dakwah anda dengan kebatilan. Tiba-tiba muncul beberapa orang berusaha menengahi anda dengan jamaah. Tidak membela anda dan tidak membela yang menolak anda. Anda bisa menilai, ini menguntungkan atau merugikan.
Di saat ahlus sunah tegang dengan orang syiah, mucul golongan ketiga. Tidak mendukung ahlus sunah dan tidak mendukung syiah. Menurutnya semuanya sama-sama muslim, tidak perlu saling bertikai. Ini menguntungkan atau merugikan?
Tahukah anda, ternyata ini sikap warisan orang munafik. Mereka ingin mengambil sikap tengah, antara islam dan kekufuran. Dan kehadiran mereka menjadi musuh dalam selimut bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا () مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (-) Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (QS. An-Nisa: 142)
Jika ada kebenaran dan kebatilah sedang berseteru, jangan mengambil sikap pertengahan, dengan membela kaduanya atau tidak mendukung keduanya. Pastikan anda berada pada posisi membela yang benar.
Allahu a’lam
http://nasehat.net/pertengahan-yang-menyesatkan/

Tawakal dulu

Tawakal dulu | kaf-artwork.blogspot.com

Hal ini berdasarkan dari firman Allah yang berbunyi :

"Artinya : Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya". [Ath-Thalaq : 3]

Yaitu yang mencukupinya, Ar-Robi' bin Khutsaim berkata : Dari segala sesuatu yang menyempitkan (menyusahkan) manusia. [Hadits Riwayat Bukhari bab Tawakal 11/311]

Ibnul Qayyim berkata : Allah adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepada-Nya, yaitu Dia yang memberi ketenangan dari ketakutan orang yang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfa'at. [Taisirul Azizil Hamidh hal. 503]

Dan ini adalah ganjaran yang paling besar, yaitu Allah سبحانه و تعالى akan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai yang memenuhi segala kebutuhan orang yang bertawakal kepada-Nya, dan sungguh Allah telah banyak menyebutkan kebaikan dan keutamaan yang menjadi ganjaran untuk orang-orang yang bertawakal kepada Allah, antara lain.

Firman Allah.

"Artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar". [Ath-Thalaq : 2]

"Artinya : Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan dan akan melipat gandakan pahala baginya". [Ath-Thalaq : 5]

"Artinya :  Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". [Ath-Thalaq : 4).

"Artinya : Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu ; Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". [An-Nisa' : 69]

Sedangkan ayat yang menyebutkan sikap tawakal adalah firman Allah : "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya". [Ath-Thalaq : 3]

Ibnu Al-Qayyim berkata : Perhatikanlah ganjaran-ganjaran yang akan diterima oleh orang yang bertawakal yang mana ganjaran itu tak diberikan kepada orang lain selain yang bertawakal kepada-Nya, ini membuktikan bahwa tawakal adalah jalan terbaik untuk menuju ketempat di sisinya dan perbuatan yang amat dicintai Allah. [Madarijus Salikin 2/128]

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata. " Bersabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم : Jika seseorang keluar dari rumah, maka ia akan disertakan oleh dua orang malaikat yang selalu menemaninya. Jika orang itu berkata Bismillah (dengan menyebut nama Allah), kedua malaikat itu berkata : Allah telah memberimu petunjuk, jika orang itu berkata : Tiada daya dan upaya dan kekuatan kecuali kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah dilindungi dan dijaga, dan jika orang itu berkata : Aku bertawakal kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah mendapatkan kecukupan".[1]

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam bab Zuhud yang disanadkan kepada Amru bin 'Ash yang mengangkat hadits ini kepada Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda : 'Sesungguhnya di dalam hati anak Adam terdapat celah-celah, dan barangsiapa yang mengabaikan Allah pada setiap celah di dalam hatinya maka ia akan binasa, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi celah-celah yang ada dalam hatinya itu". [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bab Zuhud : 4166 (2/1395) di dalam Az-Zawaid dikatakan bahwa hadist ini lemah sanadnya, dan di dalam Al-Mizan dikatakan bahwa hadits ini tertolak]

Sebagaimana diriwayatkan pula bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda : "Barangsiapa yang memutuskan gantungannya selain kepada Allah سبحانه و تعالى, maka Allah akan mencukupi baginya segala kebutuhannya, dan Allah akan mendatangkan rezeki baginya dari yang tak terduga".[Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Ash-Shagir 1/115-116 dan diriwayatkan oleh Ibnu Abu Halim seperti yang disebutkan dalam Ibnu Katsir 8/174 dan Abu Shaikh dalam At-Targhib 2/538 lihat Majmu' Az-Zawa'id 10/303]

Yang memberi kecukupan hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya :

"Artinya : Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu" [Al-Anfal : 64]

Maksudnya  ; cukuplah Allah bagi kamu, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman mengikutimu (Tafsir Ath-Thabari 10/37), maka kalian semua tak akan membutuhkan seseorang jika kalian bersama Allah, ini adalah pendapat dari Abu Shaleh Ibnu Abbas, dan juga berpendapat Ibnu Zaid, Muqatil (Zaad Al-Masir 3/556). Asy-Sya'bi (Tafsir Ath-Thabari 10/37) dan lain-lainnya, dan Ibnu Katsir tak menyebutkan selain pendapat ini (Tafsir Ibnu Katsir 4/30) Ada juga yang mengatakan bahwa artinya adalah : cukuplah bagimu Allah, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Al-Hasan dan diikuti oleh An-Nuhas. [Tafsir Al-Qurthubi 8/43]

Ibnu Al-Jauzy berkata : Bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama (Zaad Al-Masir 3/256), hal itu berdasar pada petunjuk bukti kajian bahwa sesungguhnya yang bisa memberi kecukupan hanyalah Allah سبحانه و تعالى. [Adlwa'u Al-Bayan]

Ibnu Al-Qayyim berkata :  Ini begitu juga dengan pendapat sebagian orang adalah suatu kesalahan yang nyata, tidak boleh mengartikan ayat ini seperti ini (pendapat kedua), dan bahwa sesungguhnya yang bisa memberi kecukupan hanyalah Allah semata, begitu juga dengan tawakal, taqwa dan penyembahan hanyalah kepada Allah, dan Allah سبحانه و تعالى telah berfirman dalam Al-Qur'an

"Artinya : Dan jika mereka bermaksud hendak menipu, maka sesungguhnya cukplah Allah (menjadi pelindung). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin". [Al-Anfal : 62]

Lalu dia (Ibnu Al-Qayyim) membedakan antara memberi kecukupan dengan memberi kekuatan yang bisa memberi kecukupan hanyalah Allah سبحانه و تعالى semata, sementara yang bisa memberi kekuatan adalah hanyalah Allah dengan membantunya dan juga bersama hamba-hamba Allah lainnya, Allah telah memuji kepada orang-orang yang bertauhid serta orang-orang yang bertawakal di antara hamba-hambanya, yang mana Allah menghususkan mereka untuk mendapat kecukupan dari Allah سبحانه و تعالى, maka Allah berfirman :

"Artinya : (Yaitu) orang-orang (yang menta'ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan :' Sesungguhnya manusia telah mengupmpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab : 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". [Ali Imran : 173]

Dan mereka tidak pernah mengatakan : cukuplah Allah bagi kami dan Rasulnya.

Jika mereka berpendapat seperti ini dan Allah memuji mereka seperti itu, maka bagaimana mungkin Allah mengatakan kepada utusan-Nya dengan mengatakan : Allah dan pengikut-pengikutmu akan memberimu kecukupan, sementara para pengikut Muhammad صلی الله عليه وسلم telah menjadikan Allah satu-satunya yang memberi kecukupan, dan mereka tidak pernah men-sekutu-kan Allah dengan Rasul-Nya dalam masalah memberi kecukupan, bagaimana mungkin mereka (para pengikut Muhammad) melakukan hal seperti ini ?! ini adalah kemustahilan yang paling Mustahil dan Kesesatan yang paling sesat.

Hal yang serupa dengan bahasan ini adalah firman Allah yang berbunyi :

"Artinya : Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata. 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah', (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)". [At-Taubah : 59]

Maka perhatikanlah, bagaimana Alllah menjadikan kewajiban untuk mematuhi diri-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia". [Al-Hasyr : 7]

Dan menjadikan kecukupan itu hanya dengan diri-Nya semata, Allah tidak pernah mengatakan : dan mereka berkata : cukuplah Allah dan Rasul-Nya bagi kami, akan tetapi Allah menjadikan diri-Nya sendiri satu-satunya yang bersifat memberi kecukupan, seperti fiman Allah :

"Artinya : Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah". [At-Taubah : 59]

Dan Allah tidak pernah mengatakan : "dan kepada Rasul-Nya", akan tetapi Allah menjadikan berharap hanya kepada-Nya semata, sebagaimana firman Allah :

"Artinya : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap"

Maka berharap, bertawakal, berlindung dan memberi kecukupan hanyalah kepada Allah semata, sebagaimana bahwa ibadah, taqwa dan sujud hanyalah milik Allah semata, begitu juga dengan sumpah dan bernadzar tidak diperbolehkan kecuali hanya kepada Allah semata.

Dan yang serupa dengan ayat ini adalah firman Allah yang berbunyi :

"Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya". [Az-Zumar : 36]

Maka yang mencukupi berarti Dia pula yang melindungi, di sini Allah mengabarkan bahwa hanya Dia seoranglah yang memberi perlindungan kepada hamba-Nya, sekali lagi bagaimana mungkin Allah menjadikan hambanya para pengikut Nabi bersama Allah sebagaimana yang memberi kecukupan ?!, dalil-dalil yang membuktikan kesesatan penafsiran yang merusak ini lebih banyak lagi untuk disebutkan. [Zaad Al-Ma'ad 1/36-37]

[Disalin dari buku At-Tawakkul 'Alallah wa 'Alaqatuhu bil Asbab oleh Dr Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji dengan edisi Indonesia Rahasia Tawakal & Sebab Akibat hal. 84 - 89 Bab Buah Tawakal, terbitan Pustaka Azzam, Th 1999, Penerjemah Drs. Kamaluddin Sa'diatulharamaini dan Farizal Tirmidzi]
_________
Fote Note.
[1]. Hadits Riwayat At-Tirmidzi bab do'a 3426 (5/490) dan ia juga mengatakan bahwa hadits ini adalah : hadits baik, benar dan asing, kami tak mengetahuinya kecuali dengan ungkapan seperti ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bab do'a 3886 (2/178), ia berkata di dalam Kitab Az-Zawaid : Bahwa di dalam sanad hadits ini terdapat Harun bin Abdullah, ia adalah seorang yang lemah. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Anas bab Adab 5073 (13/437), Ahmad dalam Musnadnya (1/66) yang lebih sempurna dari ungkapan ini. Hadits ini dibenarkan oleh Al-Albani sebagaimana dalah shahih Al-Jami Ash-Shagir 513, 227 (1/1950).       

Demonstrasi

Demonstrasi | kaf-artwork.blogspot.com

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya diatas segenap agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Semoga shalawat serta salam atas Nabi kita Muhammad, pengemban ajaran yang bersih dan murni, demikian juga atas keluarga, para sahabat dan pengikutnya, serta siapa saja yang meneladani dan berpedoman pada ajaran beliau sampai hari kiamat nanti. Amma ba’du.

Di dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus dengan firman-Nya.

“Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalaj jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya, yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 153]

Allah melarang kita menyelisihi ajaran Nabi-Nya dengan firmanNya.

“Artinya : Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [An-Nur : 63]

Nabi صلی الله عليه وسلم memperingatkan kita melalui sabdanya.

“Artinya : Sungguh, siapa saja diantara kalian yang hidup setelahku, pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa ar-Rasyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku” [HR Tirmidzi dan Abu Dawud, shahih]

Rasulullah صلی الله عليه وسلم memberitakan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalur Aisyah bahwa siapa saja yang mencari-cari perkataan (dalil) yang samar, pasti dia akan tergelincir, yaitu ketika beliau bersabda.

“Artinya : Jika kalian, melihat orang-orang yang mencari-cari dalil-dalil yang samar, maka merekalah orang-orang telah disebut oleh Allah, sehingga hendaklah kalian berhati-hati dari mereka”

Rasulullah صلی الله عليه وسلم juga memperingatkan dengan keras dari ulama yang mengajak kepada kesesatan dalam sabdanya.

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dari manusia sekaligus, akan tetapi Allah mencabut ilmu (agama) dengan cara mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang ulama-pun, sehingga manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh (dalam ilmu agama). Ketika para pemimpin yang bodoh tersebut ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan”.

Pada lafadz Bukhari :

“ Maka mereka berfatwa sesuai dengan akal pikiran mereka”

Betapa banyak orang-orang seperti ini di zaman kita, suatu zaman  yang segala urusan di dalamnya bercampur aduk serta samar-samar bagi orang yang ilmunya sedikit, sehingga mereka mengikuti hawa nafsu mayoritas manusia, baik dalam kebenaran maupun kebatilan, kemudian takut mengungkapkan kebenaran, karena menyelisihi pendapat masyarakat umum dan mereka lebih memilih mayoritas manusia, terlebih lagi di zaman yang kacau dan serba global ini, komunikasi begitu mudah dan cepat, maka muncullah slogan-slogan heboh : demokrasi, liberal, hak-hak wanita, hak azasi manusia (HAM), persamaan gender dan yang semisalnya.

Ini semua diterima oleh orang-orang yang hatinya menyimpang atau yang telah dididik oleh barat, kemudian di tulis di koran-koran dan disebarkan melalui media masa, gaungnya begitu kuat, sehingga disangka oleh masyarakat, bahwa itu semua merupakan suatu kebenaran, padahal ini merupakan kebatilan yang paling buruk.

Di antara slogan bodoh muncul adalah demonstrasi, pencetusnya adalah orang-orang kafir, mereka roang-orang yang tidak menghiraukan dalil dan tidak menggunakan akal. Kemudian penyakit ini berpindah ke negeri-negeri kaum muslimin melalui didikan barat.

Kita mengetahui bahwa api fitnah, bid’ah dan slogan menyialaukan muncul di saat jumlah para ulama sedikit, dan akan padam kobarannya ketika para ulama masih banyak.

Sungguh Allah telah menjaga negeri Al-Haramain (Mekkah dan Madinah) dari berbagai fitnah dan kejahatan yang besar serta bid’ah, berkat anugrah Allah, kemudian karena adanya kumpulan para ulama rabbaniyyin yang tidak takut celaan manusia ketika membela agama Allah, setiap kali tanduk bid’ah muncul, maka mereka segera menumpasnya, begitupula setiap kali leher ahlul bid’ah terangkat, maka mereka segera menundukkannya dengan ilmu syari’at, penjelasan ilahi, sunnah Nabi dan atsar para Salaf.

Sama sekali, saya tidak menyangka akan muncul generasi Al-Haramain yang mengajak kepada slogan jahiliyyah ini, sampai akhirnya benar-benar muncul. Dan kita yakin, bahwa mereka terpengaruh oleh orang-orang luar, atau mereka berfatwa tanpa dasar ilmu. Maka ada yang bertanya : Apa hukum demonstrasi-demonstrasi ini ?

Jawab.
Demonstrasi adalah bid’ah ditinjau dari berbagai sudut pandang.

Pertama.
Demonstrasi ini digunakan untuk menolong agama Allah, dan meninggikan derajat kaum muslimin, lebih-lebih di negeri-negeri Islam.

Dengan demikian, menurut pelakunya, demonstrasi merupakan ibadah, bagian dari jihad. Sedangkan kita telah memahami, bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang, kecuali jika ada dalil yang memerintahkannya.

Dari sudut pandang ini, demonstrasi merupakan bid’ah dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda :

“Artinya : Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak” [HR Muttafaqun Alaih]

Diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhari secara mu’allaq.

“Artinya : Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak”.

Kedua.
Nabi صلی الله عليه وسلم terkena fitnah dan ujian para sahabat sepeninggal beliau juga demikian, seperti peperangan dengan orang-orang murtad, tidak ketinggalan pula umat beliau selama berabad-abad juga diuji. Akan tetapi mereka semua tidak demonstrasi. Jika demonstrasi itu baik, tentunya mereka akan mendahului kita untuk melakukannya.

Ketiga
Sebagian orang menisbatkan demonstrasi kepada Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, dan ini sama sekali tidak benar, karena keshahihan riwayatnya tidak diakui oleh para ulama. Maka penisbatan demonstrasi kepada Umar merupakan kedustaan atas nama beliau sang pembeda (Al-Faruq) رضي الله عنه yang masuk Islam terang-terangan dan berhijrah di siang bolong.

Keempat
Di dalam demonstrasi ada tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir, padahal Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Artinya : Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [HR Abu Dawud dengan sanad yang hasan]

Hal ini dikarenakan demonstrasi tidak dikenal dalam sejarah kaum muslimin kecuali setelah mereka bercampur baur dengan orang-orang kafir.

Kelima
Demonstrasi secara umum tidak akan bisa digunakan untuk membela kebenaran dan tidak akan bisa digunakan untuk mengugurkan kebatilan. Terbukti, seluruh dunia demonstrasi untuk menghentikan kebengisan Yahudi di Palestina, apakah kebiadaban Yahudi berhenti? Atau apakah kejahatan mereka semakim menjadi-jadi karena melihat permohonan tolong orang-orang lemah ?!!

Jika ada orang yang mengatakan : Demonstrasi merupakan perwujudan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Maka kita katakan : Kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran  yang semisalnya. Karena kemungkaran tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga dia akan mengingkari kemungkaran tersebut atas dasar ilmu dan pengetahuan. Tidak mungkin kemungkaran bisa diingkari dengan cara seperti ini.

Keenam.
Termasuk misi rahasia sekaligus segi negative demonstrasi adalah, bahwa demonstrasi merupakan alat dan penyebab habisnya semangat rakyat, karena ketika mereka keluar, berteriak-teriak dan berkeliling di jalanan, maka mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan semangat yang telah sirna serta kecapaian yang luar biasa.

Padahal, yang wajib bagi mereka adalah menggunakan semangat tersebut untuk taat kepada Allah, mempelajari ilmu yang bermanfaat, berdo’a dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh, sebagai bentuk pengamalan firman Allah.

“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)  kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya ; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” [Al-Anfaal : 60]


Ketujuh
Di dalam demonstrasi tersimpan kemungkaran yang begitu banyak, seperti keluarnya wanita (ikut serta demonstrasi, padahal seharusnya dilindungi di dalam rumah, bukan dijadikan umpan,-pent), demikian  juga anak-anak kecil, serta adanya ikhtilath, bersentuhannya kulit dengan kulit, berdua-duan antara laki-laki dan perempuan, ditambah lagi hiasan berupa celaan, umpatan keji, omongan yang tidak beradab ? Ini semua menunjukkan keharaman demonstrasi.

Kedelapan
Islam memberikan prinsip, bahwa segala sesuatu yang kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, maka dihukumi haram.

Mungkin saja demonstrasi berdampak pada turunnya harga barang-barang dagangan, akan tetapi kerusakannya lebih banyak dari kemaslahatannya, lebih-lebih jika berkedok agama dan membela tempat-tempat suci.

Kesembilan
Demonstrasi, terkandung di dalamnya kemurkaan Allah dan juga merupakan protes terhadap takdir, karena Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Artinya : Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Jika mereka ridho, maka mereka akan diridhoi oleh Allah. Jika mereka marah, maka Allah juga marah kepada mereka”.

Sebelum perang Badr Nabi صلی الله عليه وسلم beristighatsah (memohon pertolongan di waktu genting,-pent) kepada Allah.

“Artinya : (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu :Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” [Al-Anfaal : 9]

Beliau juga merendahkan diri kepadaNya sampai selendang beliau terjatuh, Beliau memerintahkan para sahabat untuk bersabar menghadapi siksaan kaum musyrikin. Beliau صلی الله عليه وسلم dan para sahabatnya sama sekali tidak pernah mengajak demonstrasi padahal keamanan mereka digoncang, mereka disiksa dan didzalimi. Maka, demonstrasi bertentangan dengan ajaran kesabaran yang diperintahkan oleh Allah ketika menghadapi kedzaliman para penguasa, dan ketika terjadi tragedi dan musibah.

Kesepuluh
Demonstrasi merupakan kunci yang akan menyeret pelakunya untuk memberontak terhadap para penguasa, padahal kita dilarang melakukan pemberontakan dengan cara tidak membangkang kepada mereka.

Betapa banyak demonstrasi yang mengantarkan suatu negara dalam kehancuran, sehingga timbullah pertumpahan darah, perampasan kehormatan dan harta benda serta tersebarlah kerusakan yang begitu luas.

Kesebelas.
Demonstasi  menjadikan orang-orang dungu, wanita dan orang-orang yang tidak berkompeten bisa berpendapat, sehingga mungkin tuntutan mereka dipenuhi meskipun merugikan mayoritas masyarakat, sehingga dalam perkara yang besar dan berdampak luas orang-orang yang bukan ahlinya ikut berbicara.

Bahkan orang-orang dungu, jahat dan kaum wanita merekalah yang banyak mengobarkan demonstrasi, dan mereka yang mengontak dan memprovokasi massa (!)

Kedua belas.
Para pengobar demonstrasi senang terhadap siapa saja yang berdemo dengan mereka, walaupun dia seorang pencela sahabat Nabi, tukang ngalap berkah dari kuburan-kuburan bahkan sampaipun orang-orang musyrik, sehingga akan anda dapati seorang yang berdemo dengan mengangkat Al-Qur’an, disampingnya mengangkat salib (Nasrani), yang lain membawa bintang Dawud (Yahudi), dengan demikian maka demonstrasi merupakan lahan bagi setiap orang yang menyimpang, kafir dan ahli bid’ah.

Ketiga belas
Hakikat para demonstran adalah orang-orang yang hidup di dunia menebarkan kerusakan, mereka membunuh, merampas, membakar, mendzalimi jiwa dan harta benda. Sampai-sampai ada seorang pencuri menyatakan : Sesungguhnya kami gembira jika banyak demonstrasi, karena hasil curian dan rampasan menjadi banyak bersamaan dengan berjalannya para demonstran (!).

Kempat belas
Para pendemo hakekatnya, mengantarkan jiwa mereka menuju pembunuhan dan siksaan, berdasarkan firmanNya.

“Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [An-Nisaa : 29]

Karena  pasti akan terjadi bentrokan antara para demosntran dan petugas keamanan, sehingga mereka akan disakiti dan dihina, Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda.

“Artinya : Seorang mukmin tidak boleh menghinakan dirinya. Beliau صلی الله عليه وسلم ditanya : Bagaimana seorang mukmin menghinakan dirinya ? Beliau menjelaskan : (yakni) dia menanggung bencana diluar batas kemampuannya” [HR Turmudzi, hasan]

Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah agar menampakkan kepada kita, yang benar itu benar, dan memudahkan kita untuk mengikutinya. Demikian juga, semoga Allah melindungi kita dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, serta mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua dan para ulama kita. Tidak lupa pula semoga Allah memberikan taufiqNya kepada para penguasa muslim agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyat mereka, dan lebih dari itu semoga Allah menolong para penguasa muslim tersebut untuk berhukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya. Amin. Semoga Allah memberikan shalawat dan salamNya kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya.

[Majalah Al-Asholah edisi-38 halaman 76-80. Diterjemahkan Imam Wahyudi Lc]

[Disalin dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No. 5 Edisi 29-Rabiuts Tsani 1428H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl.Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]       

Fitnah Syubhat dan Sebab-Sebabnya

Fitnah Syubhat dan Sebab-Sebabnya kaf-artwork.blogspot.com

Al Imam Muhammad bin Aslam At-Thusi rahimahullah (242 H) berkata "Dan barangsiapa mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam hal wahyu dan dengan apa-apa yang ahli syirik dan ahli bid'ah berada di atasnya pada hari ini, maka dia mengetahui perbedaan yang sangat jauh antara orang-orang salaf dan orang-orang khalaf, lebih jauh antara jarak timur dan barat, mereka berdiri di atas sesuatu dan orang-orang salaf berdiri di atas sesuatu yang lain, sebagaimana dikatakan :

Dia pergi ke timur dan engkau pergi ke barat
Jauh sekali perbedaannya antara timur dan barat

Dan perkara ini -demi Allah- lebih dahsyat dari apa yang telah kami sebutkan.

Imam Al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya (2/115) [1] dari Ummi Darda radliyallahu'anha, ia berkata, "Abu Darda masuk ke rumah dengan keadaan marah, maka aku tanyakan kepadanya, "Ada apa engkau?" Maka ia berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun pada diri mereka tentang urusan (Nabi) Muhammad صلی الله عليه وسلم, kecuali mereka semuanya shalat".

Dan Imam Az-Zuhri berkata, "Saya masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus yang sedang dalam keadaan menangis, maka aku tanyakan kepadanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis?" Maka ia menjawab, "Aku tidak mengetahui sesuatu pun dari apa-apa yang aku ketahui, kecuali shalat ini, dan shalat pun sekarang telah disia-siakan". Disebutkan oleh Al-Bukhari no. 530.[2]

Dan ini adalah fitnah yang terbesar di mana Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه berbicara mengenainya, "Bagaimana keadaan kalian pabila fitnah menyelimuti kalian,orang-orang dewasa menjadi tua di dalamnya, anak-anak kecil tumbuh dewasa di dalamnya pula, bid'ah telah memasyarakat, mereka telah menjadikannya sebagai sunnah, pabila (bid'ah) itu dirubah, maka dikatakannya 'sunnah (Rasullah صلی الله عليه وسلم) telah dirubah' atau 'ini adalah perbuatan mungkar'."[3]

Dan hal ini merupakan sebagian bukti yang menunjukkan bahwa suatu amalan jika dilakukan bertentangan dengan As Sunnah maka janganlah dianggap, dan janganlah ditoleh karena amalan yang bertentangan dengan As Sunnah tersebut telah dilakukan sejak zaman Abu Darda dan Anas."[4]

Imam Syathibi rahimahullah (wafat tahun 790 H) berkata :
"Dan pada waktu itu saya telah tampil di masyarakat dengan berkhutbah, menjadi imam dan yang semisalnya, maka ketika saya menginginkan istiqamah di jalan yang lurus, saya dapatkan diri saya asing di tengah masyarakat pada waktu itu, dikarenakan gerak langkah mereka banyak dilandasi oleh adat istiadat [5] dan tata cara mereka telah dimasuki bid`ah-bid`ah dan tambahan-tambahan (dalam dien ini ), di mana di zaman dahulu hal ini bukan merupakan barang yang aneh,lebih-lebih di zaman sekarang ini!!" [6] sampai beliau berkata, "Maka ada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan pertama mengikuti As Sunnah dengan syarat menyalahi kebiasaan masyarakat, maka haruslah menerima resiko yang biasa diterima oleh orang-orang yang menyalahi adat, terlebih lagi jika masyarakat mengakui bahwa kebiasaan mereka itu satu-satunya sunnah, tetapi meskipun memikul beban yang berat terdapat pahala yang besar padanya dan pertimbangan kedua mengikuti mereka dengan syarat menyalahi As Sunnah dan As Salafus Shaleh, maka kalau begitu saya menjadi orang-orang yang sesat - saya berlindung kepada Allah dari hal yang demikian - hanya saja saya sesuai dengan kebiasaan masyarakat, dan saya dianggap sebagai pendukung, bukan
sebagai oposan.

Maka saya berpendapat bahwa binasa dalam mengikuti As Sunnah itulah sukses namanya, sedangkan manusia tidaklah dapat menguntungkanku sedikitpun di sisi Allah, maka keputusan itu saya terapkan meskipun secara bertahap dalam beberapa perkara, maka kiamatlah menimpa saya, bertubi-tubi celaan datang kepada saya, caci makian dialamatkan kepada saya bagaikan anak panah, saya dicap sebagai ahli bid`ah dan orang sesat, dan kedudukan saya diturunkan sejajar dengan orang tolol dan bodoh."[7] Sekarang ini pun kita hidup di zaman fitnah, fitnah syubhat dan syahwat.

Al Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan[8] :
"Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu."[9]

Apalagi kalau dibarengi rusaknya niat, dan berperannya hawa nafsu maka akan timbul fitnah yang lebih besar dan musibah yang lebih berat, maka katakanlah sekehendakmu mengenai kesesatan yang ditimbulkan buruknya niat, pengendalinya hawa nafsu bukannya hidayah, disertai bashirahnya yang lemah dan sedikit ilmunya mengenai apa-apa yang Allah utus RasulNya dengannya, maka dia itu termasuk orang-orang yang Allah sebut mengenai mereka :

"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka." [An-Najm : 23]

Sampai beliau berkata,
"Fitnah syubhat ini, nanti ujungnya sampai kepada kekufuran dan kemunafikan, dan ini merupakan fitnahnya orang-orang munafik dan fitnahnya ahli bid'ah menurut tingkatan kebid'ahan mereka masing- masing, semuanya berbuat bid'ah disebabkan syubhat-syubhat yang meracuni mereka sehingga menjadi kabur tidak dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang petunjuk dan mana yang sesat." [10]

Sampai beliau berkata.
"Fitnah syubhat ini kadang timbul disebabkan pemahaman yang rusak, atau nukilan yang dusta, atau dari kebenaran yang tegak, tetapi tidak nampak oleh orang tersebut sehingga ia belum mencapainya, dan kadang dari tujuan yang buruk dan mengikuti hawa nafsu maka syubhat tersebut dari kebutaan dalam bashirah dan kerusakan dalam hal keinginan."[11]

Dalam halaman lain, beliau berkata .
"Dan pokok dari segala fitnah hanya terjadi dengan jalan mengutamakan ra'yu (pikiran) atas syariat, dan mengutamakan hawa nafsu dari pada mengikuti akal sehat. Maka yang pertama merupakan pokok fitnah syubhat, dan yang kedua pokok fitnah syahwat."[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyyah rahimahullah berkata.
"Sedangkan ahli bid'ah, mereka itu ahli hawa dan syubhat, mereka mengikuti hawa nafunya dalam hal yang mereka sukai dan yang mereka benci, mereka memutuskan perkara dengan dzan (persangkaan) dan syubhat-syubhat, maka sesungguhnya mereka itu mengikuti persangkaan dan hawa nafsu, padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.

Setiap kelompok dari mereka telah membuat fondasi bagi dirinya fondasi dien yang ia buat sendiri, bisa dengan ra'yunya dan qiyas (analogi)-nya yang ia namakan menggunakan akal, atau bisa juga menggunakan perasaannya dan hawa nafsunya yang ia namakan "wangsit" atau dengan cara memalingkan arti dari Al-Qur'an dan merubah kata- kata dari tempat semestinya dalam Al-Qur'an, dan ia berkata: sesungguhnya ia mengikuti Al-Qur'an, seperti kaum Khawarij, atau dengan mengaku menggunakan dalil hadits padahal hadits tersebut dustaatau dhaif sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Syi'ah rafidhah dalam membawakan nash, dan kebanyakan dari orang-orang yang membuat diennya dengan ra'yunya atau perasaannya berhujjah dengan Al-Qur'an di mana ia mengartikan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, ia menggunakan Al-Qur'an sebagai kedok dan kamuflase belaka, sesungguhnya yang dijadikan asas untuk berpijak adalah ra'yunya."[13]

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ketika memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad dengan nasehat yang panjang, di awalnya mengenai macam-macam manusia yang terbagi menjadi tiga kelompok: Ulama rabbani, penuntut ilmu yang menuju jalan keselamatan, dan orang yang hina dan rendah, mereka tidak belajar, lalai terhadap diri mereka sendiri. Kemudian setelah itu beliau menjelaskan tentang keutamaan ilmu dibandingkan harta, lalu menjelaskan macam-macam orang yang memiliki ilmu, tetapi mereka itu orang-orang yang tercela, di antaranya adalah orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas di hatinya, tidak memiliki filter untuk menyaring kebenaran, ia merupakan fitnah bagi orang yang terfitnah disebabkan dia. Setelah selesai menceritakan mereka, lalu beliau menjelaskan tentang hilangnya ilmu dengan meninggalnya ulama, namun meskipun demikian ulama yang haq tetap saja ada meskipun sedikit jumlahnya. Setelah itu menyebutkan pujian kepada mereka.[14]

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
__________
Foote Note
[1]. Ilmu Ushulil Bida', hal.276
[2]. Ibid
[3]. H.R. Ad-Darimi (1/64), dan Al-Hakim. Lihat Ilmu Ushulil Bida' hal. 276
[4]. Ilmu Ushulil Bida' , hal. 275-277
[5]. Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan, "Kebanyakan agama-agama manusia hanyalah adat istiadat yang mereka ambil dari bapak-bapak mereka dan nenek moyang mereka, lalu mereka menirunya secara taqlid buta, baik di dalam menetapkan dan menolak, dalam cinta dan benci, dalam loyalitas dan permusuhan "(juz 2 hal 193)
[6].  Al-I'tisham, hal.33
[7] Ibid, hal. 34-35
[8]. Penyusun menukilnya dari buku Mawaridul Amaan
[9]. Syaikh Ali Hasan berkata, "Dan dari pintu sedikitnya ilmu, syetan masuk kepada orang- orang yang cetek ilmunya, ia menghiasi 'kebatilan' dengan hal yang indah-indah, sehingga mereka terjerumus dalam perangkapnya, maka
ilmu yang bermanfaat merupakan kunci bagi segala kebaikan dan penolak segala kejahatan." (Mawaridul Amaan, hal 412, Catatan kaki no.1)
[10]. Mawaridul Amaan, hal. 412
[11]. Ibid, hal. 413
[12]. Ibid, hal. 414
[13]. Syaikh Ali Hasan menukil dari kitab An-Nubuwah hal.95. (Lihat Ilmu Ushulil Bida' , hal.292)
[14]. Wasiat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه kepada Kumail bin ziyad secara lengkapnya dapat dilihat dalam buku-buku berikut ini:
1. Min Washayaa As-Salaf, hal. 11-18
2. Al-Ifadah min Miftah Daar As-Sa'adah, hal.192-193 dari juz pertama.
3. Miftah Daar As-Sa'adah, juz 1 hal.493-494, dan syarah wasiat ini terdapat pada hal. 405-474


Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam syarah wasiat Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه ketika sedang menjelaskan tipe yang kedua dari orang-orang yang memiliki ilmu, yaitu orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas dihatinya, bingung dalam mencari kebenaran, beliau berkata dalam bukunya Miftah Daaris Sa'adah juz pertama :

"Ia orang yang tunduk kepada ahli kebenaran, tetapi dadanya belum lapang dalam menerimanya, begitu pula hatinya belum tentram, bahkan dia itu lemah bashirah dalam menilai kebenaran, hanya saja dia itu tunduk dan patuh kepada ahli kebenaran.

Ini adalah keadaan pengikut kebenaran dari kalangan muqalliddin, dan mereka ini-meskipun meniti di atas jalan keselamatan-tetapi mereka bukan dari juru da'wah bagi dien ini, mereka itu hanya menambah jumlah tentara, mereka bukan komandannya atau tokohnya."[15]

Di halaman yang lain, beliau berkata: [16].
"(Sedikit saja syubhat datang kepada dia, langsung membekas di hatinya). Hal ini disebabkan sedikit ilmunya dan kelemahan bashirahnya sehingga ketika syubhat yang paling kecil pun masuk kedalam hatinya langsung saja membekas berupa keraguan dan kebimbangan, berbeda dengan orang yang kokoh ilmunya, meskipun syubhat-syubhat sebesar gelombang di lautan menerpanya ia tetap kokoh (bagaikan batu karang) tidak berubah keyakinannya, dan tidak terbersit keraguan sedikit pun, karena telah kokoh ilmu yang ia miliki. Maka syubhat-syubhat tersebut tidak dapat menggoncangkannya, bahkan apabila syubhat datang kepadanya langsung saja para pengawal dan tentaranya berupa ilmu yang ia miliki, menyerangnya sehingga syubhat tersebut langsung jatuh terkapar tidak berkutik sedikit pun.

Dan syubhat yang datang lalu masuk kedalam celah hati sehingga menghalangi dia untuk menyingkapnya agar mengetahui kebenaran, tetapi bila hati telah lekat dengan hakekat ilmu, maka syubhat yang datang tidaklah berdampak apa-apa, bahkan semakin kuat ilmu dan keyakinannya dengan jalan membantah dan menyingkap kebatilannya. Apabila hatinya belum lekat dengan hakekat ilmu yang benar, maka ia akan mudah terpengaruh berupa keraguan sejak dini, bisa jadi ia meralatnya (lalu ruju' kepada kebenaran) dan apabila tidak berbuat demikian maka syubhat yang semisalnya datang secara berturut-turut, lalu ia menjadi orang yang ragu-ragu dan bimbang. Ada dua jenis tentara dari kebatilan yang selalu masuk kedalam hati manusia, yaitu para tentara syahwat yang durjana dan para tentara syubhat yang batil. Siapa saja yang hatinya condong dan tentram kepada syubhat, maka ia menyerapnya sehingga hati dia penuh berisi syubhat, konsekuensinya yang keluar dari lisannya begitu pula yang diamalkan oleh anggota tubuhnya berupa keraguan, syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan."[17]

Sampai beliau berkata :
"Asy-Syubhat, dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat kesamaran antara yang haq dengan yang batil, karena sesungguhnya syubhat tersebut memakai pakaian yang haq menutupi badan yang batil, dan kebanyakan manusia adalah orang-orang yang baik dari segi zhahir sehingga orang yang melihat pakaian yang ia pakai, meyakininya sebagai kebenaran.

Sedangkan orang-orang yang memilki ilmu dan keyakinan dia tidak tertipu, bahkan pandangannya dapat menembus sampai ke dalam sehingga dia mengetahui apa yang ada di balik pakaiannya, maka dia dapat menyingkap hakikatnya. Analoginya seperti uang dirham yang palsu, maka orang yang bodoh akan tertipu melihat kepada zhahirnya karena memakai pakaian berupa (sepuhan) perak, tetapi orang yang ahli dalam hal ini lagi memiliki pandangan yang tajam dapat menembus apa yang ada di balik itu sehingga ia dapat mengungkapkan kepalsuannya.

Kata-kata yang manis lagi fasih dalam hal syubhat sama kedudukannya dengan pakaian (sepuhan) berupa perak dari uang dirham palsu, padahal isinya mungkin dari tembaga atau dari jenis lain di bawahnya.

Betapa banyaknya manusia menjadi korban dari penipuan dengan cara seperti ini. Hanya Allah saja yang tahu jumlah orang-orang yang tertipu!

Dan orang yang berakal lagi cerdas apabila memperhatikan hal ini secara seksama, dia akan melihat bahwa kebanyakan manusia memegang satu pendapat dan menyampaikannya dengan satu ungkapan, dalam kesempatan yang lain ia membantah pendapat yang dipeganginya tadi dengan ungkapan yang lain.[18]. Saya sendiri sering melihat yang seperti ini dalam buku-buku manusia, Masya Allah banyaknya!! Betapa sering kebenaran itu ditolak dengan cara kecaman sehingga tertutup dengan pakaian, yaitu berupa kata-kata yang buruk !

Dalam hal seperti ini, para imam ahli sunnah, seperti Imam Ahmad dan yang lainnya berkata, "Janganlah kita membuang satu sifat pun dari sifat-sifat Allah dikarenakan kecaman yang dilakukan oleh orang lain, mereka kaum Jahmiyyah menuduh bahwa penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah seperti sifat hidup, ilmu, kalam, pendengaran, penglihatan dan segala sifat lainnya yang Allah sifatkan diriNya dengan sifat tersebut mereka katakan sebagai tajsim dan tasybih (penyerupaan) dengan makhluk. Barangsiapa yang menetapkan sifat-sifat tersebut dituduhnya sebagai musyabbih."[19]

Hanya orang yang berakal picik lagi mempunyai pandangan sempit, jika ia lari dari pemahaman yang benar disebabkan adanya tuduhan dengan penamaan yang batil ini.

Dan setiap pendukung aliran atau ajaran batil menutupi hakekat aliran dan ajaran mereka dengan ungkapan semanis mungkin. Sedangkan untuk menjatuhkan lawan, mereka menggunakan ungkapan seburuk mungkin.

Adapun orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa bashirah dapat menyingkap hakekat di balik kata-kata tadi, berupa kebenaran atau kebatilan dengan menggunakan bashirah tersebut, dia tidak tertipu dengan ucapan lisan, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

"Engkau katakan ini adalah hasil dari lebah “ [20]

Dan apabila engkau menghendaki engkau katakan ini adalah muntahnya zanabir [21]

Ungkapan pertama berupa pujian dan kedua berupa celaan, engkau tidak berlebihan dalam mensifati keduanya Dan kebenaran itu terkadang tertutup oleh buruknya ungkapan."

Maka dari itu apabila engkau hendak menelaah mengenai hakekat suatu pengertian, apakah dia itu haq atau batil? Maka lepaskanlah semua dari pengaruh ungkapan kata-kata, lepaskan hatimu dari sikap apriori atau simpati, kemudian setelah itu berilah akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang obyektif, janganlah engkau termasuk oarang-orang yang subyektif dalam menilai, yaitu apabila ia melihat tulisan atau ucapan sahabat-sahabatnya atau orang-orang yang ia selalu berprasangka baik kepadanya, ia memandangnya dengan pandangan sempurna dengan sepenuh hati sehingga ditelannya bulat-bulat. Sebaliknya, apabila ia melihat tulisan atau ucapan lawanya atau orang-orang yang yang ia berprasangka buruk kepadanya, maka ia memandangnya dengan memicingkan mata, penuh koreksian. Akibatnya orang yang melihat dengan pandangan permusuhan apabila dia melihat kebaikan, yang terlihat adalah keburukan, sebaliknya orang yang melihat dengan pandangan percintaan apabila dia melihat keburukan, yang terlihat adalah kebaikan .

Dan tidak ada orang yag selamat dari sikap subyektifitas ini, kecuali orang yang Allah kehendaki mendapatkan kemuliaanNya dan Ia ridha kepadanya untuk menerima kebenaran, dan telah dikatakan :

"Mata yang penuh ridha akan memejamkan matanya dari segala aib yang ia lihatsebagaimana mata yang penuh kebencian yang ia lihat hanyalah keburukan"

Dan yang lain berkata pula :
"Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhaan tentu mereka akan menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.

Apabila yang demikian tadi berkenaan dengan pandangan mata panca indra yang hanya sampai kepada benda-benda fisik, masih saja ia belum bisa menahan dirinya agar tidak sombong, maka bagaimana jadinya dengan pandangan mata hati yang dapat menembus makna-makna yang sangat dalam yang tidak dapat dijangkau oleh mata panca indra, mata hati itu merupakan ujian yang lebih berat lagi, sehingga lebih besar lagi kemungkinannya untuk berbuat sombong.

Dan hanya Allah saja yang diminta pertolonganNya guna mengetahui kebenaran dan agar kita dapat mengikutinya, dan guna menolak kebatilan dan agar kita tidak tertipu dengannya."[22]

Wahai Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk dapat mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
__________
Foote Note
[15]. Miftah Daar As-Sa'adah, juz 1 hal 441
[16]. Ibid, juz 1 hal 442
[17]. Syaikh Ali Hasan dalam ta'liqnya mengatakan, "Dan ini yang terjadi pada ahli bid'ah dan orang-orang yang menyimpang seperti (Muhammad Zahid) Al-Kautsari itu yang telah binasa, begitu pula si pendusta "Al-Khassaaf" dari Balqa (nama tempat di Yordania, pent) orang yang hina dina !. Dan jauh berbeda antara keduanya dari segi ilmu meskipun semuanya ahli bid'ah." Penyusun mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Syaikh Ali dengan "Al-Khassaf" pendusta dari Balqa adalah Hasan Assaqqaf, seorang ahli bid'ah dari Yordania penulis buku Tanaqudhaat Al- Albani. Buku-bukunya penuh berisi kecaman dan cacian terhadap da'wah salafiyyah dan para ulamanya dahulu dan sekarang, ia
seorang yang tolol, ta'ashshub dan penuh dendam. Syaikh Masyhur Hasan Salman menyebutkan dalam sebuah bukunya Kutubu hadzdzara minha Al-Ulama (buku-buku berbahaya yang diperingatkan oleh para ulama), juz 1 hal.300-301, beliau berkata, "Beberapa masyayikh yang terhormat, dalam rangka membela aqidah salafiyyah telah membantah Hasan Assaqqaf ini, banyak peringatan-peringatan keras mereka lontarkan (kepada ahli bid'ah), begitu pula jakan penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu yang masih goyah, yang
masih dalam keadaan bingung dan goncang, mudah-mudahan mereka mengetahui hakekat buku-buku Hasan Assaqqaf ini dan bahayanya terhadap manhaj ahlul haq.

Di antara masyayikh tersebut adalah :
a. Al-Akh Syaikh Sulaiman Nashir Al-Ulwan dalam buku-bukunya :
* Al-Kasysyaf 'an dhalalaat Hasan As-Saqqaf, dicetak oleh Daar Al-Manar,Riyadh.
* Al-Qaul Mubin fi Itsbati Ash-Shuroh li rabbil 'Alamin bantahan terhadap tulisan Assaqqaf Aqwaalul Huffadz Al-mantsuroh libayanil wadh'i hadits "roaitu rabbi fi ahsani shuroh." Buku (Al-Qoul Mubin) ini dicetak oleh Daar Al-Anshar, Buraidah.
Dan dia (Syaikh Sulaiman) juga mempunyai bantahan yang panjang lebar terhadap buku Daf'u syubahi At-Tasybih dan komentar- komentar Assaqqaf terhadap buku itu yang beliau beri nama "Ithafu Ahlil fadhli wal inshafi binaqdhi kitab daf'i syubahit tasybih wa ta'liqaat Assaqqaf."
b. Al-Akh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dalam dua bukunya :
* Al-Anwar Al-Kasyifah litanaqudhaat Al-khassaf Az-Zaaifah wa Kasyfu ma fiiha minaz ziyagh wat tahrif wal Mujazafah, diterbitkan oleh Daar Al-Ashaalah.
* Al-Iiqaafu 'ala abatil qamus syataaim Assaqqaf, Daar Al-Ashaalah.
Berupa bantahan terhadap kitab Assaqqaf Qaamus Alfadz Al-Albani.
c. Syaikh Abdul Karim bin Shalih Al-Humaid dalam bukunya :
* Al-Ithafu bi Aqidatil Islam wat Tahdzir min Jahmiyatis Saqqaf
d. Al-Akh Syaikh Kholid Al-'Anbari dalam bukunya :
* Al-Iftiraa"aatus Saqqaf Al-Atsim'alal Albani Syaikhil Muhadditsin
Dan selain mereka masih banyak lagi.
[18]. Syaikh Ali mengatakan, "Hal ini bukan metode yang benar dan bukan jalannya ahli kebenaran." (Miftah Daar As-Sa'adah, juz 1, hal.443, catatan kaki no.2)
[19]. Syaikh Ali mengatakan, "Dan cara seperti ini dilakukan oleh Ahli Bid'ah dan Ahli hawa dahulu dan sekarang." (Miftah Daar As- Sa'adah, juz 1, hal.444, catatan kaki)
[20]. Hasil dari lebah maksudnya adalah madu.
[21]. Zanabir bentuk jama' dari zanbur yaitu serangga yang memiliki sengat seperti lebah, hanya badannya lebih besar dari lebah. Zanbur ini suka mencuri madu dari sarang lebah, apabila muntah, maka muntahnya yang keluar mirip madu
[22]. Miftahu Daar As Sa'adah, juz1 hal 443-445       

Renungan Mengenai Pemutus Kenikmatan

Renungan Mengenai Pemutus Kenikmatan kaf-artwork.blogspot.com

Dari Nadhar bin Ismail yang berkata: Saya pernah mendengar Umar bin Dzar [1] berkata:

Kamu sekalian telah cukup mengerti tentang kematian, maka kamu menunggu-nunggu kedatangannya siang dan malam.

Mungkin kamu meninggal sebagai seorang yang sangat dicintai oleh keluarganya, dihormati oleh kerabatnya, dan dipatuhi oleh masyarakatnya, dipindahkan keliang yang kering dan batu-batu cadas yang bisu. Tidak ada seorangpun dari keluarga yang bisa memberikan bantal, kecuali hanya menempatkannya di tengah kerumunan binatang serangga. Adapun bantal pada saat itu berupa amal perbuatannya.

Atau mungkin kamu meninggal sebagai orang yang malang dan terasing. Di dunia, ia telah ditimpa banyak kesedihan, usaha yang dilakukan sudah berkepanjangan, badan telah kepayahan, lantas kematian tiba-tiba menjemput sebelum ia meraih keinginannya.

Atau mungkin kamu adalah seorang anak yang masih disusui, orang yang sakit, atau orang yang tergadai dan tergila-gila dengan kejahatan. Mereka semua diundi dengan anak panah kematian.

Tidak adakah pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan para juru nasihat?!

Sungguh, seringkali saya berkata: "Maha Suci Allah Jalla Jalaluhu. Dia telah memberi tempo kepada kamu sehingga seakan-akan menjadikan kamu lalai." Kemudian saya kembali melihat kepemaafan dan kekuasaan-Nya, lantas berkata: "Tidak, tetapi Dia mengakhirkan kita sampai pada batas ajal kita, sampai pada hari di mana mata menjadi terbelalak dan hati menjadi kering."

"Artinya : Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." [Ibrahim : 43]

"Ya Rabbi, Engkau telah memberikan peringatan, maka hujjah-Mu telah tegak
atas hamba-hamba-Mu”

Kemudian ia membaca:

"Artinya : Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit." [Ibrahim : 44]

Kemudian ia berkata:

"Wahai pelaku kezhaliman! Sesungguhnya kamu sedang berada dalam masa penangguhan yang kamu minta itu, maka manfaatkanlah sebelum akhir masa itu tiba dan bersegeralah sebelum berlalu. Batas akhir penangguhan adalah ketika kamu menemui ajal, saat sang maut datang. Ketika itu tidak berguna lagi penyesalan.

Anak Adam ibarat papan yang dipasang sebagai sasaran dari panah kematian. Siapa yang dipanah dengan anak panah-anak panahnya, tidak akan meleset. Dan bila kematian itu telah menginginkan seseorang, maka tidak akan menimpa yang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan yang paling besar adalah kebaikan di akhirat yang abadi dan tidak berakhir, yang kekal dan tidak fana, yang terus berlanjut dan tak kenal putus.

Hamba-hamba yang dimuliakan bertempat tinggal di sisi Allah Ta'ala di tengah segala hal yang menyenangkan diri dan menyejukkan pandangan. Mereka saling mengunjungi, bertemu, dan bernostalgia tentang hari-hari mereka hidup di dunia.

Tentramlah kehidupan mereka. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan dan meraih apa yang mereka cari, karena keinginan mereka adalah berjumpa dengan majikan Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Anugerah. [2]

[Disalin ulang dari: "Wasiat Para Salaf", Penulis Syaikh  Salim bin 'Ied Al Hilali, Penerjemah: Hawin Murtadho. Penerbit: At-Tibyan, Solo. Cetakan kedua: Juli 2000 M, hal.111-114]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Umar bin Dzar biun Abdillah bin Zaraqah Al-Hamdani Al-Murhabi, seorang tabi'it tabi'in yang tsiqah, wafat pada tahun 135 H. Riwayat hidupnya ada dalam "Tahdzibut Tahdzib" (VII:144), "Hilyatul Auliya" (V:108) dan lain-lain
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam 'Al-Hilyah' (V:115-116)